Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Monday, August 29, 2011

Haruskah Kita Memakai Baju Baru Di Hari Lebaran?

Lebaran, Idul Fitri, adalah perayaan besar untuk umat muslim di dunia, begitu pula di negara kita Indonesia ini. Setiap tahun anak-anak pasti banyak yang mendapatkan uang saku dari saudara-saudaranya. Tentu saja mereka senang dengan semua itu. Namun apakah orang tua mereka senang? Belum tentu juga kan? Bayangkan apabila orang tua mereka tidak mampu, pasti ada tekanan batin disana. Tradisi lebaran kian menjadi tekanan untuk keluarga yang kesulitan dalam bidang ekonomi, apalagi dalam wilayahnya menerapkan gaya hidup glamor. Malu apabila tetangganya bisa beli, namun dirinya tidak.

Siapa yang membuat tradisi lebaran seperti ini sih? Apa Nabi Muhammad dulu juga berpakaian selalu baru saat lebaran ya? Kan bisa mengundang tindakan kriminal saat kehidupan glamor itu menuntut dipuaskan, namun kita tidak bisa memenuhinya dengan cara yang halal. Orang yang bekerja di kota besar, kemudian ingin mudik, memiliki rasa malu apabila tidak membawa sekedar oleh-oleh, atau uang saku untuk dibagikan pada saudara yang lebih muda. Niatnya kadangkala tidak ingin malu dan pede saja, namun aku sendiri pernah mendengar desas desus saudaraku sendiri yang berkata, “medhit yo paklik kae, aku ndak disangoni” (pelit ya paman itu, aku tidak diberi uang saku).

Lhah, jika si paman mendengar kata-kata saudaraku itu, apakah si paman (setidaknya) merasa tersengat hatinya? Lha wong aku saja yang ndak dirasani merasa sakit hati dengan perkataan itu tadi, hingga akhirnya ikut bicara kalau mungkin saja beliau pas ndak dapat rejeki dan berusaha menjelaskannya dengan bahasa halus. Hiihh… Sebenarnya ini merupakan mindset dari kecil, yang terus-menerus ditanamkan pada diri setiap anak yang baru lahir. Pernah melihat orang tua tidak memakai baju baru saat lebaran, namun rela ngutang untuk membelikan anaknya sandal baru belum? Sayang sekali, aku juga belum pernah. Tapi yakinlah pasti ada hal seperti ini terjadi dalam masyarakat kita.

Untuk lebaran kali ini, aku sebenarnya ndak ngurus mau baju baru atau baju butut. Mau celana jeans baru, atau celana jeans jebol kebanggaanku. Niat untuk sholat Ied dan bersilaturahmi pada saudara, kerabat, dan teman adalah yang utama. Tidak untuk pamer baju, pamer barang baru, pamer BlackBerry baru, atau yang lainnya.
Hmm… aku nulis ini supaya yang lagi kesulitan ekonomi ndak usah panik cari utangan atau repot-repot ngerampok. Coba deh dicari baju andalanmu, dicuci bersih, disetrika sampe licin dan diberi pewangi *tapi jangan banyak-banyak*. Baru deh nanti kamu merasa lain dari biasanya, lebih merasa ngganteng dan cantik wes! Tak jamin 101%.

selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin  _/\_

Monday, August 22, 2011

"DIK, AKU MEMANG INGIN MATI BERSAMAMU"

Inilah sebuah cerita asmara berujung darah. Karena kekasihnya menikah dengan pria lain, lelaki sok jagoan ini marah-marah. Bukan hanya ancaman, pisau pun bicara.

Benar kata orang, cinta memang buta. Saking butanya, bisa jadi gelap mata karena asmara ditolak. Itulah yang terjadi pada diri Agung Priyono (29) warga Jalan Bengawan Solo, Blitar (Jatim). Karena sakit hati tak bisa memiliki sang kekasih sebagai istri, Agung membabi buta menganiaya wanita yang sudah bersuami . Setelah itu, ia berusaha bunuh diri. Beruntung, keduanya masih bisa diselamatkan.

Cerita asmara berdarah ini terjadi Senin (10/10) lalu di Rumah Sakit (RS) Syuhada Haji, Blitar. Pagi itu Chuliati (28) yang sehari-hari berprofesi sebagai perawat, tengah sibuk mendampingi dokter melakukan pemeriksaan pasien. Belum lama ia mendampingi dokter, tiba-tiba Agung, mantan kekasihnya,datang menemui dirinya. "Kamu pilih aku atau Siswanto?" ujar Agung dengan nada keras dan tidak bersahabat.

KLIK - Detail Berkali-kali Siswanto mengutarakan pertanyaan itu. Melihat gelagat yang kurang baik, Chuliati mengajak Agung menuju ruang perawat. Chuliati mengku repot menjawab. Ia memang sudah jadi istri Siswanto. Di rahimnya juga bersemayam janin berusia empat bulan, buah cinta dengan suami yang menikahinya Juni 2005 lalu.

Namun, kalau menjawab 'Siswanto', Chuliati takut karena ia melihat sebilah pisau dari balik baju Agung, yang sepertinya sengaja ditunjukkan kepadanya. "Jadi saya kerepotan mau jawab apa? Saya hanya bisa berlaku halus supaya dia tak emosi," ujar Chuliati yang masih terbaring di RS. Syuhada, tempat biasa ia merawat pasien.

KALA PISAU BICARA
Kala itu, Chuliati berusaha menenangkan Agung. "Mas, sudahlah jangan malu-maluin. Masak di rumah sakit, kok, bawa-bawa pisau segala. Sudah jangan pakai gitulah," bujuk Chuliati. Bukan hanya Chuliati yang berusaha meredam emosi Agung. Yuli, kepala ruangan yang juga menyaksikan adegan itu, berusaha menenangkan Agung.

Mungkin merasa jengkel tak mendapat jawaban yang memuaskan hatinya, Agung mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Secepat kilat pisau yang cukup besar itu diangkat tinggi-tinggi. Lalu, diayunkan dengan gerakan memotong jari-jarinya sendiri yag diletakkan di meja. Akibatnya, jari tengahnya langsung putus, sedangkan telunjuknya kiwir-kiwir.

Adegan mengerikan di depan matanya itu, membuat Chuliati nyaris pingsan. Belum sadar apa yang terjadi, Chuliati melihat Agung mengayunkan pisau ke tubuhnya. Berkali-kali sampai Chuliati tak ingat lagi. Yang pasti ia merasakah pedih karena luka di belakang telinga, perut bagian atas, dan dua jari tangan karena ia berusaha menangkis.

Samar-samar Chuliati juga melihat, Agung seperti orang kalap. Setelah itu, Agung merobek perutnya sendiri dengan pisau di tangannya sampai luka parah. Rupanya, Agung berniat mati bersama Chuliati. Setelah melukai dirinya sendiri, tubuh Agung lunglai dan jatuh terlentang. Pisau di tangannya sudah terlepas.

Saat itulah, Chuliati menggeliat dan berusaha berdiri. Menyaksikan Chuliati masih bertahan, Agung kembali beringas. Kembali pisau digenggam. Ia beberapa kali melukai paha kiri Chuliati. "Dia baru berhenti melukai saya,setelah ia tak berhasil menarik pisau yang menancap di paha saya," ujar Chuliati menceritakan peristiwa tragis itu. Di saat jatuh terlentang, Agung berkata, "Dik, aku memang ingin mati denganmu."

Seketika itu juga, RS gempar. Langsung saja Chuliati digotong rekan-rekannya masuk ruang operasi. Lukanya lumayan berat. Chuliati masih merasa beruntung karena anak dalam kandungannya tak ikut jadi korban. "Alhamdulillah, setelah dirontgent, bayi saya sehat-sehat saja," ujar Chuli.

Sementara itu, Agung yang juga bersimbah darah dibawa polisi ke RS Mardi Waluyo. Dari empat jarinya yang luka, hanya dua yang bisa diselamatlkan. Jari tengah dan telunjuk tak bisa disambung lagi. Sedangkan luka menganga di perut berhasil dijahit melalui proses operasi.

BERMULA SALING CURHAT
Mengapa peristiwa berdarah itu terjadi? Ceritanya ternyata cukup panjang dan berliku. Tragedi berdarah itu berawal dari hubungan asmara keduanya. Chuliati, sebenarnya adalah mantan kakak ipar Agung. Chuliati pernah menikah dengan Zainal Arifin yang tak lain adalah kakak kandung Agung. Pernikahan Chuliati dan Zainal retak. Puncaknya, tahun 2003 mereka pisah ranjang.

Menurut Chuliati, perpisahan itu dipicu karena suaminya tak punya pekerjaan. "Dia tak berusaha untuk mencari pekerjaan. Praktis hanya saya yang berusaha mencari nafkah. Bagi saya itu adalah persoalan prinsip karena menyangkut tanggung jawab suami. Saya pun memutuskan pisah darinya," ujar Chuliati menceritakan.

Nah, di penghujung perpisahan dengan suaminya, dalam waktu bersamaan Agung juga tengah bermasalah dengan istrinya. Ia yang semula tinggal bersama istrinya menjadi sering pulang ke rumah orang tuanya. Sama-sama bermasalah, keduanya saling curhat. "Ia juga menceritakan, rumah tangganya sedang retak," ujar Chuli polos.

Sering bertemu dan saling curhat, bertautlah kedua hati mereka. Mereka sama-sama mengisi kekosongan hati. Namun, setahun kemudian, Chuliati merasa ada gelagat kurang baik dalam diri Agung. Chuliati merasa dijadikan sapi perahan oleh Agung. "Dia selalu minta uang kepada saya, tapi dia sendiri tak mau kerja," tambahnya.

Selain itu, Chuli juga jengkel karena Agung berlaku kasar padanya. "Suatu kali, dia pernah kehilangan dompet. Dia yang enggak hati-hati, tapi justru saya saya yang dimarahi habis-habisan," ujar Chuliati seraya mengatakan, sepeda motornya sempat dijual oleh Agung dan uangnya dihabiskan.

Tak ada pilihan lain,Chuliati perlahan-lahan meninggalkan Agung. Chuliati juga menyarankan agar Agung kembali lagi kepada istri dan anaknya. "Saya pernah melihat, istri Agung datang ke rumah mertuanya. Saya curiga, sebenarnya Agung sudah pisah dari istrinya atau tidak. Kalau pisah, kok, istrinya masih datang ke rumah mertua. Makanya saya sarankan Agung untuk balik pada istrinya lagi saja," papar Chuli.

Namun, Agung tak mau cinta terlarang itu berakhir. Bahkan, Agung mengajak Chuliati untuk segera menikah. "Sebenarnya, saya tetap ingin pisah. Sayangnya, saya tak bisa tegas. Sebab, dia selalu mengancam akan membunuh kalau saya menolaknya," paparnya.

Tuesday, August 16, 2011

Apakah Indonesia Sudah Pantas Disebut Merdeka?

Kemerdekaan berasal dari kata merdeka yang menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna bebas (dari penghambaan, penjajahan dsb), berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak tergantung pada orang lain atau pihak tertentu.
Apakah Indonesia sudah seperti itu?Secara tertulis dan pemikiran, negara kita ini sudah merdeka karena sudah memenuhi berbagai persyaratan negara yaitu: memiliki wilayah untuk ditempati, memiliki rakyat, memiliki pemerintahan yang berdaulat serta adanya pengakuan dari negara lain, tapi jika dilihat dari segi pemerintahanya, masyarakatya Indonesia 'menurut saya' belum bisa dikatakan merdeka.

Negara dapat disebut merdeka jika semua rakyat yang berada di negara tersebut terjamin dalam kehidupannya. Negara kita belum merdeka juga karena masih belum terbukanya di dalam sistem pemerintahan kepada rakyat. Satu lagi alasan negara kita belum merdeka karena masih banyak wakil-wakil rakyat yang hanya memihak kepada organisasinya sendiri atau hanya kalangannya sendiri. Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 pada alinea keempat yang menyatakan bahwa: “…dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…” Pun dalam Pancasila sila ke lima yang berbunyi: “mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Dari kedua landasan filosofis dan landasan idiil Indonesia ini berarti sesungguhnya sejak awal proklamasi kemerdekaan, negara telah bertekad untuk menjamin kehidupan rakyatnya dalam berbagai bidang, baik sosial, ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Namun pada kenyataannya bagaimana? Menurut catatan BPS bahwa pada tahun 2004 jumlah penduduk miskin 16,66 % atau sekitar 30 juta jiwa. Pada tahun 2005, angka kemiskinan berkurang menjadi 16 % dari total jumlah penduduk Indonesia. Namun pada 2007 seiring dengan naiknya harga minyak dunia, jumlah penduduk miskin di Indonesia melonjak menjadi 39 juta orang, jumlah penduduk miskin mencapai 17,75 %. Sementara pada tahun 2010, persentase jumlah penduduk miskin berkurang jadi 13,33 % saja atau sekitar 31 juta jiwa. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus 2009 sebanyak 237 juta jiwa. Meski pemerintah menunjukkan prestasi yang cukup signifikan, namun hal ini ironis dengan kondisi Indonesia yang luar biasa melimpah sumber daya alamnya. Masih segar dalam ingatan kita di tahun 2009 lalu bagaimana mengenaskannya kematian 92 orang di Yahukimo, Papua. Padahal kita mengetahui betapa kayanya Papua dengan PT Freeport yang bukan hanya menghasilkan tembaga sebenarnya, tapi juga emas dan peraknya. Ini menunjukkan betapa kurang tanggapnya negara terhadap kesulitan warganya. Seakan negara menutup mata dan telinga atas semua kasus ini sehingga entah bagaimana akhir kasus ini sekarang. Negara kita belum merdeka, indikator lain adalah juga karena masih belum terbukanya di dalam sistem pemerintahan kepada rakyat. Transparansi APBN masih merupakan hal yang paling mustahil diketahui rakyatnya sendiri. Seakan masyarakat bukan pihak yang perlu tahu kemana dana-dana yang berasal dari berbagai pajak itu lenyap namun tak bersisa dan tak meninggalkan pembangunan yang nyata. Alokasi 20 % APBN sebagai dana pendidikan masih menjadi cita-cita yang entah kapan akan terwujud, karena dalam kenyataannya akses pendidikan masih sulit digapai masyarakat menengah ke bawah. Namun patut kita apresiasi putra putri terbaik bangsa ini yang sering mewakili Indonesia ke ajang internasional dalam berbagai event dan lomba. Ini membuktikan bahwa putra putri terbaik kita memberikan secercah harapan bahwa dengan prestasinya. Mengutip pidato presiden ketika peringatan hari teknologi nasional, 11 Agustus lalu yang menyatakan bahwa di tahun 2030 Indonesia akan mencapai peringkat kelima dunia dalam bidang teknologi setelah Cina, Amerika, India dan Korea. Ini bukan hal yang mustahil karena sesungguhnya sumber daya alam dan sumber daya manusia Indonesia sesungguhnya kita sudah siap dengan semua ini hanya tinggal daya dukung dari semua kalangan. Namun, sebelum mengangankan itu semua (meski mari kita berharap bahwa ini akan benar-benar terjadi) renungkan satu pertanyaan ini: bagaimana kita bisa mencapai peringkat kelima jika pemimpinnya masih sulit memimpin? Dan hakikatnya pemimpin adalah representasi dari rakyat yang dipimpinnya. Jika pemimpin-pemimpin Indonesia masih banyak yang melakukan korupsi, sesungguhnya itulah refleksi dari rakyat Indonesia saat ini. Meskipun tentu yang dikorupsikan bukan hanya uang tunai saja. Karakter pemimpin yang paling penting adalah melayani masyarakat, menjadi pedoman dan teladan bagi rakyat yang dipimpinnya.
Birokrasi masih carut-marut, kemiskinan menjamur, koruptor bebas berkeliaran tanpa beban. 

Waduh. . . !! Gini kok d bilang MERDEKA. . . !! LUCU. . . !! 
Para pejabat sedang hikmat menikmati hasil dari 'Korupsi', sementara di luar sana banyak warga miskin, pemulung, pengemis, gelandangan, masih memperjuangkan kemerdekaannya sendiri.
apakah sudah pantas Indonesia dikatakan sebagai negara yang merdeka?????????

coba simpulkan sendiri.

Lirik Lagu Overcast Terbaru : Penyesalan

Lirik by : Champlenx penggebug drum Overcast

Bukan kesenangan yang kau dapatkan dari semua...
Tapi penyesalan yang kau rasakan...
Kau lakukan semua itu tanpa tau akibatnya...
Kau lakukan semua itu hanya untuk nikmat yang semu...
Kau hancurkan semua masa depan dan cita - cita...
Semua yang kau inginkan dan yang kau harapkan kini telah sia - sia...
Musnahlah semua angan dan keinginan karna kesenangan semata...
Mungkin suatu saat kau akan sadar bahwa semua itu hanya akan menjadi penyesalan...

Thanks buat champlenx yang sudah mbuatin lirik, secepatnya akan digarap tenang saja :D

Sunday, August 14, 2011

Sejarah Turunnya Al-Qur’an

Setiap tahun pada tanggal 17 Ramadhan orang islam di dunia selalu memperingati nuzulul qur’an. Dimana pada bulan ramadhan merupakan bulan diturunkannya al-qur’an atau nuzulul qur’an. Perlu kiranya kita mempelajari sejarah, sebagai upaya untuk menambah keteguhan iman kita kepada Allah SWT dan kitab Allah berupa al-Qur’an. Seperti yang pernah awalmula.com baca; “Apabila kita tidak mengetahui sejarah, maka kecenderungan akan mengulangi sejarah seperti masa lalu ketika terjadi pemalsuan al-Qur’an pada masa-masa awal mula islam”. Maka dari itu pada kesempatan yang baik ini, awalmula.com berbagi sejarah awal mula nuzulul qur’an, bagaimana al-Qur’an diturunkan, bagaimana pula para ulama menjaga al-Qur’an dari masa ke masa, serta pelajaran apa yang dapat kita ambil dari sejarah turunya al-Qur’an tersebut.
Istilah turunnya al-Qur’an berasal dari kata “nazala, yanzilu nazlan” yang artinya turun. Sedangkan nuzul al-Qur’an adalah turunnya al-Quran kepada nabi Muhammad SAW.
Turunnya al-Quran dari atas ke bawah menunjukkan ketinggian kedudukan al-Quran. Al-Qur’an menurut ahli tafsir ialah kalam allah yang diurunkan kepada nabi Muhammad secara mutawatir. Sedangkan menurut ahli fiqh ialah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad, menjadi mukjizat Nabi, lafadznya secara mutawatir yang ditulis dalam mushaf al-Quran diawali surat al-fatihah dan diakhiri dengan surat an-naas.
Turunnya al-Qur’an membawa perubahan bagi manusia di muka bumi. Turunnya al-Qur’an sebagai putunjuk bagi manusia memperoleh jalan yang benar menuju cahaya iman dan Islam. Ayat pertama yang turun merupakan pertanyaan-pertanyaan yang berkisar di seputar nasib manusia, asal usul dan tujuannya. Kapan dan dimana serta peristiwa yang terjadi pada saat ayat pertama dan terakhir diturunkan kepada Muhammad SAW. Para jumhur ulama’ menyebutkan bahwa ayat yang pertama kali turun ialah surat al-‘Alaq ayat 1-5.
Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al ‘Alaq 1-5).
Surat al-‘Alaq diturunkan ketika rasulullah saw berada di gua hira’ , yaitu sebuah gua dijabal nur, yang terletak kira-kira tiga mil dari kota Mekah. Ini terjadi pada malam senin, tanggal 17 ramadhan tahun ke 41 dari usia Rasulullah 13 tahun sebelum hijriyah. Bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 M. malam turunnya al-Quran pertama kali di ‘lailatul qodar” atau ‘lailatul mubarakah”, yaitu suatu malam kemuliaan penuh dengan keberkahan.
Pengajaran Dengan Pena
Surat al-‘Alaq 1-5 menjelaskan jawaban gelisah dan kerisauan yang dialami oleh nabi Muhammad SAW melihat realitas jahiliyah. Nabi risau dengan keadaan bangsa Arab yang kesuku-sukuan, menuhankan patung dan berhala serta bermusuh-musuhan. Nabi menepi dan bertahanus di gua hira’ sampai akhirnya turun wahyu. Allah memperkuat hati nabi Muhammmad bahwa hanya kepada Allah SWT manusia bersandar dari segala sesuatu. Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Pada ayat berikutnya Allah menunjukkan sifat Allah yang maha pemurah. Hanya kepada Allah manusia meminta segala sesuatu. Berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah yang maha mulya.
Pada ayat Bacalah, dan Tuhanmulah yang Paling Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam, menujukkan budaya tulis menulis. Al-Quran menunjukkan kemajuan manusia yang dicapai melalui budaya tulis menulis. Kala itu hanya dikenal dengan budaya lisan, berupa syair-syair, namun Allah mengajarkan manusia dengan pena. Suatu lompatan budaya al-Qur’an. Jika melihat realitas peradaban keilmuan dan pengetahuan dipelajari dari warisan buku-buku yang ditulis oleh para ilmuwan. Demikian, juga kitab al-Qur’an, ditulis dan terjaga hingga saat ini, sebagai satu-satunya kitab suci yang otentik dari segi lafadz dan periwayatannya.
Di Indonesia, tradisi tulis menulis masih langka, banyak ilmu yang bertebaran di masyarakat, tapi hanya sedikit orang yang mau mengumpulkan dalam tulisan, hingga sejarah kelam kerap terjadi berulang-ulang. Misalnya, pertikaian antar suku, korupsi dan pembalakan hutan adalah tradisi yang membuat bangsa ini tercabik-cabik, akhirnya, kebodohan cenderung terulang dari masa ke masa. Kita jarang belajar dari sejarah, karena kita tidak tahu sejarah dan tidak punya tulisan yang bisa dipelajari dari sejarah bangsa ini. Selayaknya, para manusia bisa mengambil pelajaran dari turunnya wahyu pertama, untuk mengingatkan manusia agar belajar tentang tulis menulis. Menuliskan pengetahuan yang ada di alam semesta. Mengkaji makna butiran-butiran mutiara al-Qur’an sebagai landasan teori dasar pengetahuana dan seterusnya.
Tidak bisa dipungkiri, bangsa yang memiliki peradaban maju, adalah bangsa yang memiliki tradisi tulis menulis yang kreatif. Sehingga generasi mendatang bisa belajar dari buku-buku yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya.
Peristiwa turunnya Al-Qur`an (Nuzulul Qur`an) yang terjadi pada malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan, merupakan salah satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah dan perkembangan Islam. Di saat itulah sosok pemuda terpercaya yang bernama Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib resmi diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan rasul terakhir akhir zaman.
Karenanya, Nuzulul Qur`an dan kenabian Muhammad saw memiliki hubungan yang erat dimana hubungan tersebut telah mempengaruhi kualitas agama islam dari beberapa segi:
1. Tanpa turunnya Al-Qur`an, Muhammad saw tidak akan diangkat menjadi nabi. menyampaikan Firman Allah kepada ummat manusia, dan menjelaskan ayatNya dengan sunnahnya saw.
2 Al-Qur’an menjadi pedoman bagi seluruh ummat manusia yang beriman dan ingin serta mempunyai tekad tinggi untuk menghapal. memahami, mengamalkan ayat demi ayat yang terdapat padanya. yang kemudian mereka dikenal dengan istilah ulama alias orang-orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih serta menguasai ulumuddin [ilmu-ilmu keagamaan]. Mereka hadir dan wafat dengan meninggalkan wasiat agar generasi ulama berikutnya tetap setia belajar, mengajar dan menjabarkan isi Al-Qur`an dan As-Sunnah untuk menjawab persoalan masyarakatnya dan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.
Perlu diketahui bahwa Al-Quran turun dua periode dan keduanya sama-sama terkait dengan bulan Ramadhan.
Periode pertama, Al-quran turun dari sisi Allah ke langit dunia. Ini yang kemudian dikenal dengan Lailatul Qadar. Turun secara keseluruhan dalam satu waktu. Kejadiannya bukan di masa Nabi melainkan di masa lalu, yang menurut sebagian riwayat pada sebelum terjadi penciptaan manusia.
Periode kedua, Al-Quran turun dari langit dunia ke muka bumi (kepada Rasulullah saw), secara berangsur-angsur selama 23 tahun, dimulai dengan 5 ayat pertama surat Al-’Alaq. Kejadiannya pada tahun 632 Masehi bertepatan dengan malam 17 Ramadhan, menurut kebanyakan analisa sejarah dan pendapat para ulama.
Al-Quran merupakan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman bagi manusia dalam menata kehidupan demi mencapai kebahagiaan lahir dan batin, baik di dunia maupun di akhirat. Konsep-konsep yang dibawa oleh al-Quran selalu relevan dengan problema yang dihadapi manusia, karena itu ia turun untuk mengajak manusia berdialog dengan penafsiran sekaligus memberikan solusi terhadap problema tersebut di manapun dan kapanpun mereka berada.
Pada kenyataannya, al-Quran benar-benar menciptakan design yang dahsyat dalam Bahasa Arab dengan mengubah instrument-instrument teknis pengungkapannya. Pada satu sisi, ia menggantikan syair arab yang begitu terkenal dengan keabsahan dan keragamana kosa katanya dengan bentuk dan tatanan bahasa sendiri yang tak tertirukan, walaupun sama-sama menggunakan bahasa yang sama. Pada sisi lain memperkenalkan konsep-konsep dan tema-tema baru ang utuh dan lengkap.serta menegakan prinsip-prinsip aqidah yang utuh dan sempurna.
Al-Quran juga mengalihkan perhatiannya kepada masa lalu yang jauh di dalam sejarah perjalanan ummat manusia sekaligus mengarah ke masa depannya dengan tujuan mengajarkan tugas-tugas masa kini. la melukiskan gambaran dan tanda-tanda yang mengundang manusia untuk segera menarik pelajaran darinya. Setelah pelajaran dapat ditarik kesimpulannya, ternyata jiwa manusia tanpa disadari terseret serta terpesona oleh kedalaman dan keluasan makna al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa al-Quran sebagai mukjizat terbukti menjadi modal kehidupan dunia dan akhirat.
Masihkah Al-Quran bersama kita?
Masih adakah Al-Quran selalu bersama kita merupakan pernyataan tegas terhadap sikap, prilaku dan kondisi internal keberagamaan ummat Islam di tengah tengah arus modernisasi sebagai suatu proses perkembangan dalam peradaban manusia. Apalagi sekarang ini, ummat islam sedang menanti datangnya pemimpin baru yang dengan tulus ikhlas membawa perubahan struktural kondisi kebangsaan dan menjadi tiang penyanggah yang kuat dari rapuhnya keyakinan (tauhid) dan robohnya nilai-nilai sosial kemanusiaan bahkan mampu membuka bendungan ekonomi yang mensejahterakan setelah sekian lama tersendat oleh kepentingan ideologis maupun golongan tertentu.
Melalui momentum Nuzulul Quran ini, pernyataan “Masihkah AI-Quran bersama kita” menjadi sebuah gugatan terhadap prilaku dan keyakinan yang belum selalu berdampingan dengan Al-Quran bahkan menyatu dengannya. Al-Quran sebagai risalah terakhir yang sempurna dan universal bagi seluruh ummat manusia dengan konsep tanzil-turun, membawa atau menurunkan banyak pesan yang harus direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya media seruan yang dimunculkan dalam ayat al-Quran, baik yang diseru “Wahai manusia”, “Bani Adam”, “Orang-orang beriman dan kafir” ataupun Ahli Kitab.
Melalui risalah Muhammad, Allah SWT menurunkan al-Quran saat manusia sedang mengalami kekosongan para rasul, kemunduran akhlak dan kehancuran problem kemanusiaan, sosial politik dan ekonomi. Pada setiap problem itu, al-Quran meletakkan sentuhannya yang mujarrab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia selanjutnya yang relevan di setiap zaman. Sejak diturunkannya sampai dengan sekarang al-Quran tidak pernah terlepas dari suatu tradisi yang sedang berjalan. Dengan kata lain, pesan-pesan al-Quran selalu berhubungan dengan pribadi atau masyarakat yang mengganggapnya sakral atau sebagai sentralitas etika universal.
Jika melihat kondisi ummat Islam pada saat al-Quran diturunkan, melalui momentum nuzulul Quran ini, semua peristiwa di masa lalu itu dibangkitkan melalui perenungan. Jadi ada kesamaan konteks ketika al-Quran diturunkan pertama kali dengan kondisi terkini yang secarasosial, politik, ekonomi dan agama memang sedang membutuhkan pemecahan. Untuk itu, ummat Islam sebagai ummat yang terbaik mengemban tugas berat yang berkaitan dengan memahami, mengilhami dan melakukan tanggung jawab. Karena memahami dan menaf sirkan adalah bentuk yang paling mendasar dari keberadaan manusia dimuka bumi yang memiliki jabatan sebagai khalifah.
Dengan demikian, eksistensi ummat Islam sebagai ummat yang terbaik tidak diragukan. Dengan bantuan ilmu pengetahuan dan agama, peristiwa Nuzulul Quran yang terjadi beberapa abad yang lalu menjadi sesuatu yang berkesinambungan hingga kini. Masa lalu tidaklah usang dan ia menjadi pendahulu masa kini. Maka, upaya memahami makna nuzulul Quran pada saat sekarang ini sama sekali tidak menghilangkan makna dan konteks terdahulu, melainkan merangkumnya untuk kemudian diteruskan hingga kini. Ada semacam harapan yang harus terpenuhi dalam menghadapi tantangan global saat ini sebagaimana Rasulullah juga menghadapi tantangan dan ujian yang berat.
Setelah melihat konteks nuzulul Quran, tugas selanjutnya ialah melakukan kontektualisasi ajaran dan pesan yang terkandung dalam peristiwa nuzulul Quran. Kita harus selalu berdampingan dengan al-Quran dalam setiap pikiran, perkataan dan perbuatan. Persahabatan kita dengan al-Quran baru sebatas pragmatis dan belum menjadi sesuatu yang harmonis sehingga al-Quran belum membuka solusi terhadap problem kehidupan.
Terjadi pengaburan pada batas-batas norma dan etika. kekacauan dan ketidakdisiplinan di kubu wakil rakyat yang masih sulit diverifikasi bahkan dipercaya seutuhnya menunjukkan keremangan nasib bangsa. Pantaskah mereka mewujudkan keadilan sosial yang menyeluruh jika kejujuran belum menjadi dasar kursi kepemimpinan?
Demikianlah kiranya sejarah nuzulul qur’an yang dapat awalmula.com sampaikan untuk dipelajari bersama, semoga dengan kita mempelajari tentang awal mula nuzulul qur’an ini, dapat kiranya menambah keimanan dan keyakinan kita terhadap agama Allah SWT yaitu Agama Islam.

Sumber : beragam :)

Monday, August 1, 2011

Postingan Pertama

Bismilahhirohmannirohim

Ini adalah Postingan pertama ku di blog ini,sebenernya sih saya punya blog lain selain blog ini,tapi menurut ku blog yang laen kurang gimana gitu hehehe.
Oke,pertama tama marilah kita panjatkan puja dan puji sukur kehadirat Allah swt,halah kaya ceramah aja ya.
Sebenernya sejauh ini saya masih bingung mau dikasih konten apa ni blog ya, mohon kasih saran ya kirim lewat e-mail di halaman kontak.
Sebenernya tuh saya gak begitu mengenal tentang dunia bloging,tapi "katanya" dunia blog itu mengasyikan, makanya saya ikut2n membuat blog,blog pertama saya tu wahyugothink.blogspot.com tu berisi tentang game,dan kontennya pun "copas" semua :D.Tapi sekarang saya sadar bahwa hasil karya seseorang tidak boleh di ambil seenaknya aja. Jadi untuk para blogger2 di dunia ini usahakan buatlah konten se original mungkin, jangan mengambil/mengcopy hasil karya orang lain.
Mungkin cukup sekian dulu "Curhatan" ku, sampai ketemu di Postingan selanjutnya bye bye.

 
Opreked by Gothink